INFO TERKINI : Yth. rekan-rekan semuanya, sehubungan hari ini banyak pertanyaan terkait adanya erupsi dengan awan panas di Gunung Slamet, berikut jawaban Ka. BVMBG Bapak Ir. M. Hendrasto, M.Sc : "tidak benar ada awan panas di Gunung Slamet, tadi pagi teramati beberapa letusan abu kehitaman, tinggi 600-1.000 m. salam SURONO Mbah Rono

Monday, March 17, 2014

GEMPA 5,2 SR GUNCANG BARAT DAYA PACITAN,

Telah terjadi gempabumi 5.2 SR, 16-Mar-14 21:53:53 WIB, Lok:8.91 LS,110.93 BT (93 km BaratDaya PACITAN-JATIM), Kedlmn:12 Km (BMKG). Pusat gempa di dasar lautan di bagian dalam zona subduksi dari lempeng Eurasia-Hindia Australia. Gempa dirasakan sedang oleh masyarakat selama 5 detik. Gempa dirasakan oleh masyarakat di Yogyakarta (II-III MMI), Klaten (II MMI), Karangkates (II MMI), Tulungagung, Ponorogo, Blitar, Purworejo. Gempa tidak berpotensi tsunami. Belum ada laporan kerusakan. Kondisi masyarakat normal..

Friday, February 21, 2014

Perkembangan Aktivitas G. Kelud Status Siaga (level Iii) Tanggal 21 Februari 2014 Hingga Pukul 06:00 Wib

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, Provinsi Jawa Timur.
I. Pendahuluan
Gunungapi Kelud berbentuk strato, secara administratif terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dan secara geografis terletak pada posisi 7º 56’ 00” LS, 112º 18’ 30” BT dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas terakhir terjadi pada tahun 2007 diawali dengan peningkatan aktivitas kegempaan dan diakhiri dengan erupsi efusif pada tanggal 3-4 November 2007 berupa kubah lava ditengah danau kawah dengan volume kubah sebesar 16,2 jt m3.
Peningkatan jumlah kegempaan teramati sejak bulan Januari 2014, yang didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Vulkanik Dalam (VA). Berdasarkan peningkatan kegempaan vulkanik yang cukup signifikan tersebut, status G. Kelud dinaikkan dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) pada tanggal 2 Februari 2014. Pada tanggal 10 Februari 2014, status aktivitas dinaikkan menjadi Siaga (Level III). Pada tanggal 13 Februari 2014 pukul 21:15 WIB, status aktivitas dinaikkan menjadi Awas (Level IV). Pada tanggal 20 Februari 2014 pukul 11.00 WIB, status aktivitas diturunkan menjadi Siaga (Level III).
II. PENGAMATAN
2.1. VISUAL
Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Kelud yang terletak di Desa Margomulyo, Kecamatan Ngancar yang berjarak sekitar 7,5 km dari puncak G. Kelud. Hasil pemantauan secara visual adalah sebagai berikut :
  • Tanggal 20 Februari 2014
-       Pukul 00:00-06:00; Cuaca cerah, angin perlahan dari arah Selatan, kelembaban 79%, suhu udara 22°C, gunung jelas. Teramati kepulan asap berwarna putih tebal, tekanan lemah dengan tinggi sekitar 300 meter, condong ke Timur Laut.
-       Pukul 06:00-12:00; Cuaca cerah, angin perlahan dari arah Selatan, kelembaban 65-79%, suhu udara 22-28°C, gunung jelas. Teramati kepulan asap berwarna putih tebal, tekanan lemah dengan tinggi sekitar 300 - 350 meter, condong ke Timur Laut.
-       Pukul 12:00-18:00; Cuaca cerah, angin sedang dari arah Selatan, kelembaban 85%, suhu udara 23°C, gunung jelas teramati asap putih tipis, tinggi sekitar 300 meter condong ke arah Timur.
-       Pukul 18:00-24:00; Cuaca cerah, angin lemah dari arah Barat Laut, kelembaban 84%, suhu udara 21°C, gunung jelas teramati kepulan asap tekanan lemah dengan tinggi sekitar 300 meter, condong ke arah Timur.
  • Tanggal 21 Februari 2014
-       Pukul 00:00-06:00; Cuaca cerah, angin lemah dari arah Barat Daya, kelembaban 77%, suhu udara 22°C, gunung jelas. Teramati kepulan asap berwarna putih tebal, tekanan lemah dengan tinggi sekitar 300 meter, condong ke Timur.
2.2. KEGEMPAAN
Hasil rekaman kegempaan yang terekam di stasiun Umbuk sekitar 6 km dari Kawah Kelud dan sejak tanggal 20 Februari 2014, pukul 18.00 WIB di pindah ke stasiun Pedot sekitar 2 km dari Kawah Kelud adalah sebagai berikut :
  • Tanggal 20 Februari 2014
-       Pukul 00:00-06:00; Terekam 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 2 kali Gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm.
-       Pukul 06:00-12:00; Terekam 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm.
-       Pukul 12:00-18:00; Terekam 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), Tremor menerus dengan amplituda 0,5 – 1 mm.
-       Pukul 18:00-24:00; Terekam, 19 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 (satu) kali Gempa Low Frekuensi (LF), dan Tremor menerus dengan amplituda 0,5 – 4 mm.
  • Tanggal 21 Februari 2014
-     Pukul 00:00-06:00; Terekam 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali Gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm.
III. POTENSI BAHAYA 
-       Erupsi masih berpotensi terjadi, yang menghasilkan material berukuran abu sampai lapili (berukuran 2-6 cm) yang ancamannya dapat mencapai radius 5 km.
-       Erupsi tanggal 13 Februari 2014 juga menghasilkan awan panas yang terendapkan di sekitar radius 3 km dari puncak dengan temperatur yang masih tinggi, apabila bersentuhan dengan air (hujan) dapat menimbulkan letusan sekunder.
-       Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material hasil erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah/ sungai yang berhulu di puncak G. Kelud.
-       Potensi keluarnya gas vulkanik berbahaya dari Kawah G. Kelud masih tinggi.
IV. KESIMPULAN
  • Pengamatan visual masih menunjukkan adanya kepulan asap putih tebal menerus dari kawah G. Kelud.
  • Aktivitas kegempaan didominasi Tremor menerus dengan amplituda yang cenderung menurun.
  • Tidak terekam gempa-gempa Vulkanik Dalam secara signifikan yang mengindikasikan adanya suplai magma dalam jumlah besar.
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Kelud hingga tanggal 21 Februari 2014 pukul 06:00 WIB status kegiatan G. Kelud masih Siaga (Level III).
  • Jika terjadi penurunan atau peningkatan aktivitas vulkanik G. Kelud, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan atau dinaikkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.
VI. REKOMENDASI
Sehubungan dengan G. Kelud dalam status Siaga, maka kami rekomendasikan:
a. Masyarakat di sekitar G. Kelud dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak G. Kelud dalam radius 5 km dari kawah aktif.
b. Masyarakat di sekitar G. Kelud diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Kelud dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD/SATLAK setempat.
c. Masyarakat di luar radius 10 km dan berada di tempat pengungsian diperbolehkan pulang ke rumahnya masih-masing dengan tetap dalam kewaspadaan tinggi.
d. Masyarakat yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) untuk selalu waspada dan memperhatikan perkembangan G. Kelud yang dikeluarkan oleh BPBD/SATLAK setempat.
e. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (BPBD Provinsi) dan SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang tentang aktivitas G. Kelud. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten.
f. Agar SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Kelud di Kampung Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
g. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang serta Satlak PB Kabupaten Kediri dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Kelud.

Saturday, February 15, 2014

INFORMASI TRAYEKTORI DAN SEBARAN DEBU GUNUNG BERAPI

PUSDATIN- Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status Gunung Kelud dari status Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) terhitung tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.15 WIB.
Semburan debu lebih kurang 10.000 meter.
Trayektori dan sebaran debu Gunung Kelud pada ketinggian semburan 10.000 meter menggunakan data angin jam 07:00 WIB.
Dari setiap Level Ketinggian menunjukkan bahwa Trajectory Debu Gunung Kelud bergerak ke arah Barat sampai dengan Timur Laut

sumber : humas BMKG

Tuesday, February 11, 2014

Peningkatan Status Gunung Kelud Dari Waspada Menjadi Siaga

I. Pendahuluan 
Gunungapi Kelud berbentuk strato, secara administratif terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dan secara geografis terletak pada posisi 7º 56’ 00” LS, 112º 18’ 30” BT dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut. 
Aktivitas terakhir terjadi pada tahun 2007 diawali dengan peningkatan aktivitas kegempaan dan diakhiri dengan erupsi efusif pada tanggal 3-4 November 2007 berupa kubah lava ditengah danau kawah. 
Peningkatan jumlah kegempaan teramati sejak bulan Januari 2014, yang didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Vulkanik Dalam (VA). Berdasarkan peningkatan kegempaan vulkanik yang cukup signifikan tersebut, status G. Kelud dinaikkan dari Normal(Level I) menjadi Waspada (Level II) pada tanggal 2 Februari 2014. 
II. PENGAMATAN 
2.1. VISUAL  
Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Kelud yang terletak di Desa Margomulyo, Kecamatan Ngancar yang berjarak sekitar 7,5 km dari puncak G. Kelud. Hasil pemantauan secara visual sejak 3 Januari 2014 adalah sebagai berikut : 
  • Tanggal 3 Februari 2014; Cuaca cerah-mendung dan hujan gerimis - deras, angin tenang, suhu udara 240C, kelembaban 86%,  gunung berkabut.
  • Tanggal 4 Februari 2014; Cuaca mendung dan hujan gerimis - deras, angin bertiup sedang ke arah Timurlaut, suhu udara 240C, kelembaban 86%,  gunung berkabut.
  • Tanggal 5 Feruari 2014; Cuaca mendung, angin tenang, suhu udara 230C, kelembaban 72%,  gunung berkabut.
  • Tanggal 6 Februari 2014; Cuaca cerah, angin bertiup sedang dari arah Selatan, suhu udara 230C, gunung jelas-berkabut.
  • Tanggal 7 Februari 2014; Cuaca cerah-mendung hingga hujan, angin bertiup perlahan dari Selatan, suhu udara 20 - 240C, kelembaban 86%, gunung berkabut.
  • Tanggal 8 Februari 2014; Cuaca cerah, angin bertiup sedang dari Selatan, suhu udara 210C, kelembaban 83%, gunung berkabut.
  • Tanggal 9 Februari 2014; Cuaca cerah, angin bertiup perlahan dari Selatan, suhu udara 20 - 260C, kelembaban 86%, gunung jelas-berkabut.
  • Tanggal 10 Februari 2014 (hingga pukul 12.00 WIB); Cuaca mendung, angin bertiup dari Utara-Timurlaut, suhu udara 20 - 210C, kelembaban 72-86%, gunung berkabut. 
2.2. KEGEMPAAN  
Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 3 Februari 2014 (Lampiran 1) adalah sebagai berikut :
  • Tanggal 3 Februari 2014; 73 kali Gempa Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 4 Februari 2014; 37 kali Gempa Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 18 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 5 Februari 2014; 40 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 23 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 6 Februari 2014; 55 kali Gempa Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 26 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 7 Februari 2014; 117 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 42 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 11 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 8 Februari 2014; 152 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 90 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 11 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 9 Februari 2014; 157 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 53 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 10 Februari 2014 (hingga pukul 12.00 WIB); 92 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 33 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA).
  • Pada periode 3-10 Februari 2014 (hingga pukul 12:00 WIB), kegempaan didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Vulkanik Dalam (VA). Gempa VB meningkat sejak tanggal 15 Januari 2014 dengan kisaran 22-157 kejadian per hari atau rata-rata harian 90 kejadian. Gempa VA teramati meningkat signifikan sejak tanggal 27 Januari 2014 dengan dalam kisaran 13-90 kejadian per hari atau rata-rata 37 kejadian/hari.
  • Energi gempa Vulkanik meningkat perlahan sejak pertengahan bulan Januari 2014 (Lampiran 2). Awal bulan Februari 2014, laju energi membesar terkait peningkatan jumlah Gempa Vulkanik dan membesarnya gempa Vulkanik.
  • RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) mulai dikalkulasi kontinyu sejak tanggal 5 Februari 2014, dan teramati adanya peningkatan energi sejak tanggal 6 Februari 2014, relatif stabil. Pada tanggal 9 Februari 2014 terjadi peningkatan energi dimana amplituda gempa-gempa Vulkanik relatif membesar dan jumlah yang meningkat (Lampiran 3).
  • Kalkulasi hiposenter gempa-gempa Vulkanik memperlihatkan sebaran gempa di sekitar G. Kelud dengan kedalaman mencapai 3 km di bawah puncak (Lampiran 4). 
2.3 DEFORMASI 
Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter. Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di stasiun Lirang Selatan. Tiltmeter merekam data dengan baik sampai 10 Februari 2014, terindikasi adanya inflasi, terutama komponen Radial (Y) sejak bulan November 2013 (Lampiran 5). 
Pada tanggal 8 Februari 2014, ditambahakan satu stasiun tiltmeter yang ditempatkan di stasiun seismik Lirang (Utara). Peralatan beroperasi dengan baik, namun belum dapat dilakukan analisis karena lama data pemantauan masih pendek (Lampiran 6).  
2.4. SUHU AIRPANAS  
Pengukuran suhu air panas dilakukan secara kontinyu di kawah G. Kelud sejak 10 September 2013 sampai 10 Februari 2014. Suhu air panas G. Kelud terlihat meningkat sejak 10 September 2013. Peningkatan signifikan teramati sejak tanggal 23 Januari hingga 9 Februari 2014 sekitar 4°C, dan  suhu teramati sedikit menurun pada tanggal 10 Februari  (Lampiran 7). 
III. POTENSI BAHAYA 
Daerah yang berpotensi terlanda bahaya letusan G. Kelud terdiri dari 3 (tiga) kawasan, yaitu : 
-    Kawasan Rawan Bencana III (KRB III) merupakan kawasan yang selalu terancam awan panas, gas racun, lahar letusansan, aliran lava, dan kawasan yang sangat berpotensi tertimpa lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat dalam radius 2 km dari pusat erupsi. 
-    Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) merupakan kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan lahar letusan, serta kawasan yang berpotensi tertimpa lahar hujan dan hujan abu lebat dalam radius 5 km dari pusat erupsi. 
-    Kawasan Rawan Bencana I (KRB I) merupakan kawasan yang berpotensi terlanda lahar hujan, serta kawasan yang berpotensi tertimpa lahar letusan dalam radius 10 km dari pusat erupsi. 
IV. KESIMPULAN
  • Aktivitas kegempaan vulkanik menunjukkan peningkatan dan didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA).
  • Data deformasi (tiltmeter) di stasiun Lirang (selatan) menunjukan inflasi G. Gelud pada komponen Radial (Y)
  • Data suhu air panas di Kawah G. Kelud menunjukkan peningkatan.
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Kelud maka terhitung tanggal 10 Februari 2014 pukul 16:00 WIB status kegiatan G. Kelud dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III)Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Kelud, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. Apabila aktivitasnya terus meningkat, maka daerah yang terdampak dapat diperluas sesuai ancamannya. 
V. REKOMENDASI
Sehubungan dengan G. Kelud dalam status Siaga, maka kami rekomendasikan:
  1. Masyarakat di sekitar G. Kelud dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak G. Kelud dalam radius 5 km dari kawah aktif.
  2. Masyarakat di sekitar G. Kelud diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Kelud dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
  3. Masyarakat yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) untuk selalu waspada dan memperhatikan perkembangan G. Kelud yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (BPBD Provinsi) dan SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang tentang aktivitas G. Kelud. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten.
  5. Agar SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Kelud di Kampung Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
  6. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang serta Satlak PB Kabupaten Kediri dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Kelud.kelud0214_1
kelud0214_2
kelud0214_3

kelud0214_4

Sumber : PVMBG

Monday, February 10, 2014

Penjelasan BMKG Soal Fenomena Surutnya Air Laut Banten

Penjelasan BMKG Soal Fenomena Surutnya Air Laut BantenPUSDATIN-Fenomena surutnya air laut di Pantai Karangantu, Serang, Banten mengundang perhatian warga. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena yang terjadi beberapa hari terakhir itu disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari.
Peristiwa ini hanya berselisih 11.41 jam dari fase bulan baru atau konjungsi atau terjadi pada 30 Januari 2014 pukul 21.41 UT atau 31 Januari 2014 pukul 04.41 WIB. Maka posisi bulan tersebut berefek menimbulkan pasang atau surut air laut dalam waktu 2 hingga 3 hari ke depan.Berdasarkan informasi yang dihimpun dari situs BMKG, surutnya air laut terjadi akibat posisi bulan dan matahari terhadap bumi. BMKG mencatat pada 30 Januari 2014, jarak bumi dan bulan mencapai titik terdekatnya (perigee) dengan jarak sebesar 357079,741 km.
Biasanya fenomena air laut surut dapat terjadi akibat beberapa kemungkinan seperti terjadi setelah didahului gempa bumi kuat yang mengakibatkan dasar laut bergerak naik (patahan naik) atau turun. Fenomena air laut yang disebabkan patahan tersebut akan menimbulkan tsunami beberapa menit setelah gempa bumi.
Berdasarkan pemantauan seismik dari wilayah Banten dan Sumatera (Lampung) sejak 4 Februari sampai 5 Februari 2014, tidak ada rekaman gempa bumi yang terjadi.
Fenomena air laut surut dapat juga terjadi akibat adanya longsoran atau amblesan dasar laut dalam skala besar. Berdasarkan pemantauan seismik di daerah tersebut tidak ada rekaman gempa bumi guguran (longsoran) yang terjadi.
Fenomena air laut surut dalam periode yang lama karena adanya fenomena "uplift zona" sekitar pantai. Gerakan uplift ini tidak dapat terpantau dari stasiun seismik tapi dapat dianalisis dari data GPS.
Di media sosial, surutnya air di Pantai Karangantu menjadi perbincangan dan menimbulkan kekhawatiran, dalam beberapa hari terakhir. Tamo Yadi, salah satu nelayan di Pelabuhan Karangantu, Serang mengatakan, fenomena surutnya air laut itu terjadi sejak awal Januari 2014.
"Ya dari Januari awal sampai sekarang ini. Baru tahun ini surut nya, sampe 1 km lah. Biasanya cuma dikit doang, tapi sekarang sampe tengah. Biasanya ya paling 200-an meter," ujar Tamo.
Warga Anggap Biasa
Meski bikin heboh dunia maya, namun warga yang berada di lokasi Pantai Karangantu atau setidaknya yang melihat langsung laut surut di Banten, menilai fenomena itu biasa-biasa saja.
"Ini biasa saja, mungkin karena lumpurnya saja lebih banyak. Jadi terlihat seperti lebih jauh surutnya," kata Agus, seorang pengunjung Karangantu asal Cipare.
Hal senada juga disampaikan warga setempat, Muhtar. Dia mengatakan, apa yang terjadi sekarang ini dianggap sebagai hal yang biasa. Ia mengaku heran melihat banyaknya orang yang menjadikan ini sebagai sesuatu yang besar.
"Bagi kami warga di sini sudah tidak aneh lagi. Ini biasa saja, tidak ada yang berlebihan. Kenapa warga di luar jadi pada ribut," kata Muhtar, warga setempat. Menurut dia, dengan kondisi tersebut para nelayan dan warga di Karangantu merasa tidak ada gangguan, karena kondisi seperti itu terjadi setiap hari. (Ant/Riz)

Sumber : www.news.liputan6.com/

Thursday, February 6, 2014

Waspada gunung kelud

PUSDATIN- Gunungapi Kelud berbentuk strato, secara administratif terletak di tiga kabupaten yaitu Kediri, Blitar, dan Malang. Aktivitas terakhir terjadi pada tahun 2007 diawali dengan peningkatan aktivitas kegempaan dan diakhiri dengan erupsi efusif pada tanggal 3-4 November 2007 berupa kubah lava di tengah danau kawah. Selama periode 1 Januari hingga 2 Februari 2014 terjadi peningkatan jumlah gempa Vulkanik Dangkal (VB). Peningkatan cukup signifikan dimulai pada tanggal 15-16 Januari 2014, yaitu jumlah 22 dan 24 kali kejadian. Peningkatan jumlah gempa VB cenderung terus naik namun berfluktuatif (pada tanggal 28 Januari 2014 mencapai 33 kali kejadian dan 2 Februari 2014 hingga pukul 11.00 mencapai 68 kali kejadian). Dari peningkatan yang terjadi dan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya gunungapi Kelud maka terhitung tanggal 2 Februari 2014 pukul 14.00 WIB status kegiatan dinaikan dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II)


Friday, January 31, 2014

Antisipasi Tsunami, BPBD Pasang Dua Unit Perangkat Pendeteksi Gelombang Tide Gauge


Dua Unit Tide Gauge Dipasang Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Di Perairan Selatan Pacitan.Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi datangnya gelombang tsunami. Peralatan itu merupakan bantuan dari pusat
Menurut Kepala Seksi (Kasi)  Kesiapsiagaan Dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ratna Budiono, kedua peralatan tersebut dipasang di kawasan Teluk Pacitan dan Pantai Tawang, Kecamatan Ngadirojo. Bantuan tersebut berasal dari Badan Metereologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) dan Badan Pengkajian Dan
Penerapan Teknologi (BPPT).

Pemilihan lokasi pemasangan karena pertimbangan terbatasanya peralatan. Selain itu posisi pantai juga berdekatan dengan pemukiman. Pemasangan dilakukan oleh tenaga dari BPPT dan Kementerian Riset Dan Teknologi  (Kemenristek) dibantu para personil BPBD. Keterlibatan BPBD sendiri dalam pemasangan lebih ditujukan pada upaya alih teknologi. Karena dalam proses selanjutnya pemeliharaan maupun pengoperasian alat serta perangkat dilakukan pihak BPBD.

Tide gauge merupakan peralatan yang berfungsi sebagai pengumpul data perubahan tinggi permukaan air laut. Selain di Kabupaten Pacitan, ada tiga peralatan serupa dipasang di sejumlah tempat di Indonesia.
Membentang dari dekat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara. Menurut Ratna, alat ini semacam jaring sinyal untuk memantau pergerakan air laut dan menjadi bagian master plan mengantisipasi tsunami.(Riz)

Sumber : http://pacitankab.go.id/